Spiga

Mumbai, Jurnalisme, dan Masa Depan Internet

NINOK LEKSONO

”Serangan di India bisa menjadi studi kasus lain tentang bagaimana teknologi mentransformasi warga menjadi reporter potensial, menambah satu dimensi baru pada media berita.”(Brian Stelter dan Noam Cohen, ”New York Times”, 29/11)


Internet sebagai teknologi terbukti ampuh digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari komunikasi personal hingga korporasional, mulai dari perdagangan hingga media. Khususnya untuk yang terakhir, salah satu wujudnya yang telah mapan adalah hadirnya media online seperti Kompas.com.

Dalam perkembangan berikut, muncul fenomena blog, yang aslinya lebih berupa ekspresi personal atas berbagai topik, tetapi dalam perkembangan selanjutnya melahirkan impak yang jauh di wilayah media dan jurnalistik. Bahkan, muncul pertanyaan fundamental, ”Apakah blog menjadi masa depan jurnalistik?”

Jawabannya terpulang pada keyakinan masing-masing, tetapi blog bersama tren lain yang kini juga berkembang, yakni jurnalisme warga (citizen journalism), tak diragukan lagi akan terus berkembang mewarnai perkembangan media.

Salah satu uraian tentang praktik jurnalisme warga yang aktual karena terkait dengan berita utama internasional adalah yang dilakukan Arun Shanbhag ketika terjadi aksi teror di Taj Mahal Palace dan Tower di Mumbai, Rabu (26/11) malam pekan silam. Ia melaporkan apa yang terjadi melalui internet dari teras Colaba Causeway di Mumbai selatan (Lihat Brian Stelter dan Noam Cohen di The New York Times yang dikutip di atas).

Shanbhag sendiri adalah asisten profesor di Harvard Medical School di Boston, yang hari itu kebetulan ada di Mumbai. Karena menyaksikan kejadian itu secara langsung, ia terpanggil untuk berbagi. Lalu, ia pun mengabarkan tentang suara rentetan tembakan dari senapan melalui Twitter dan mengunggah foto-foto yang ia buat dalam blog pribadinya.

Dalam kenyataan, apa yang dilakukan Shanbhag itu hanya satu dari laporan yang ditulis jurnalis warga. Semuanya memperlihatkan bagaimana teknologi sedang mengubah warga menjadi reporter potensial.

Saat aksi teror memuncak, ada lebih dari satu pesan dalam satu detiknya dengan kata ”Mumbai” di dalamnya yang dikirim ke Twitter, layanan pesan pendek yang semula dianggap keanehan, tetapi kini dalam dua tahun berhasil tumbuh menjadi satu panggung berita (news platform).

Pesan-pesan tersebut dan juga lainnya yang dikirim melalui situs web dan juga situs yang digunakan untuk berbagi foto memang terkesan kacau. Namun, itu rupanya sangat berarti untuk menghubungkan orang dari berbagi tempat di dunia.

Sebenarnya apa keunggulan yang ditawarkan media baru ini?

Melalui Twitter, seseorang mendapat umpan (feed) dari banyak orang dalam satu waktu. Selain itu, jurnalis warga juga bisa menghindar dari aturan birokrasi yang dihadapi organisasi media. Misalnya saja batas waktu transmisi video langsung seperti yang dihadapi CNN, yang membuat reporternya lalu hanya bisa mengirim laporan via telepon, padahal stasiun TV berita, seperti CNN, amat mengandalkan gambar video. Sementara kamera dan telepon yang dibawa warga lain, termasuk jurnalis warga, tidak terikat dengan aturan di atas.

Informasi yang dikirim jurnalis warga ini diakui besar artinya pada tahap awal krisis, khususnya ketika informasi resmi baik dari pemerintah maupun media utama masih berusaha menaksir seberapa luas skala serangan.

Informasi tersebut barangkali sedikit, tetapi informasi yang sedikit, menurut guru besar Graduate School of Journalism Columbia University Sreenath Sreenivasan, lebih baik daripada tidak ada informasi sama sekali.

Masa depan internet


Dari uraian di atas tampak internet memegang peranan penting dalam munculnya dimensi baru jurnalisme.

Mereka yang akrab dengan sejarah internet mengetahui bahwa medium ini tumbuh dan berkembang bisa dikatakan bukan sebagai produk akhir. Internet sebagai bukan produk akhir memberi kesempatan luas bagi siapa pun untuk berkreasi di atasnya. Pebisnis dan penemu bisa menggunakannya sebagai papan lontar untuk inovasi selanjutnya.

Kini, ketika internet telah menjadi media utama, muncul desakan untuk mengubahnya menjadi sistem yang sudah mereka kalahkan, yaitu dengan jalan membuatnya tertutup. Artinya, nanti akan tidak ada lagi peluang bagi pihak luar untuk ”main-main” atau merekayasa (tinkering) sistem jaringan ini. Kalaupun tidak sepenuhnya, peluang untuk itu hanya akan dibuka sedikit, di bawah pengawasan ketat (Jonathan Zittrain, ”The Internet is Closing”, Newsweek, 8/12)

Alasan keamanan


Perubahan yang akan terjadi itu sebagian karena adanya kebutuhan untuk menjawab masalah keamanan yang memang biasanya muncul pada teknologi terbuka. Sebagian alasan lain adalah karena bisnis.

Namun, upaya untuk mengubah sistem terbuka menjadi sistem tertutup diperkirakan akan memunculkan inovasi baru yang lazimnya muncul dari akibat tak terduga aktivitas otak- atik, yang sejauh ini telah memberi kita web, pesan cepat (instant messaging), jaringan langsung ke pihak tertentu (peer- to-peer networking), Wikipedia, dan sejumlah inovasi lain.

Langkah penutupan juga akan memunculkan penjaga gawang, yang akan membuat kita, tetapi juga mereka, tawanan bagi rencana bisnis yang terbatas dan juga regulator yang umumnya takut pada hal-hal baru yang mengguncangkan.

Kemungkinan di atas bisa jadi akan menimbulkan gelombang balik yang mengguncangkan. Bisa kita bayangkan berapa harga yang harus dibayar untuk berbagai sistem tertutup yang akan diperkenalkan, sementara pilihan teknologi dan aplikasi mungkin juga akan lebih terbatas.

Namun, konsekuensi hilangnya kreativitas yang selama ini banyak dipicu dengan bebas dan terbukanya internet boleh jadi yang paling mendalam. Kita menilai bahwa internet yang kita kenal selama ini adalah salah satu pembentuk peradaban terbuka dan demokratis yang cocok dengan zaman dan gaya hidup abad ke-21.

Asyik Masyuk dengan Flock

Satu hal dahsyat yang dilahirkan internet adalah cara berjejaring baru dengan banyak orang di kolong langit. Dengan teman-teman jejaring itu kita dapat berbagi banyak hal: informasi, foto, video, dll.

Browser adalah pintu gerbang kita memasuki dunia internet. Sebelumnya, aktivitas berjejaring dan berbagi kita lakukan dengan cara masuk dulu ke situs tertentu, apakah flickr, youtube, atau layanan penyedia blogg.

Sekarang, urusan berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya jauh lebih sederhana. Pasalnya, sudah tersedia browser yang mengintegrasikan aktivitas kita berjejaring. Namanya Flock, the social web browser. Browser ini berbasiskan firefox, cuma rasanya saja beda. Bisa dibilang, ini firefox dengan rasa social network. Cobain deh, Anda pasti akan langsung asyik masyuk berselancar di dunia maya.

Jika para pengguna firefox harus menginstall sejumlah add-ons untuk kepentingan social network mereka, maka flock sudah mengintegrasikan itu langsung di browsernya.

Misalnya, Anda gak perlu lagi masuk ke facebook untuk sekedar tahu status teman-teman Anda atau foto-foto yang mereka upload. Di sisi sebelah kiri ada jendela yang menyajikan aktivitas di halaman facebook Anda.

Untuk urusan ngeblog, Anda juga gak perlu harus masuk ke halaman editor blog karena flock telah menyediakan uploader. Beberapa layanan blog yang didukung antara lain Blogger, Wordpress, Typepad, Moveable Type, Live Journal dan Drupal. Demikian pula untuk urusan upload foto ke flickr.

Sejumlah situs yang terintegrasi dengan flock antara lain facebook, photobucket, digg, flickr, myspace, pownce, twitter, youtube, picasa, piczo. layanan blog yang disebut di atas, delicious, gmail dan yahoo mail.

Kalau mau tahu soal flock silakan klik di sini, kalau mau langsung nyoba silakan download di sini.

Budi Putra, Passion Seorang Blogger

Kalau Anda bertemu dengan Budi Putra dan bertanya apa profesinya, jangan kaget jika ia menjawab blogger. Ya, Budi Putra adalah full time blogger atau istilah kerennya blogger profesional. Jika bagi sebagian orang ngeblog adalah kegiatan sampingan, tidak demikian bagi Budi. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk mengelola sejumlah blog miliknya. Ia tercatat sebagai blogger profesional Indonesia pertama. Di kartu namanya tertulis ”Tech Writer & Blogger” di bawah namanya.

“Pekerjaan ini menyenangkan, saya tidak perlu datang ke kantor menghabiskan dua sampai tiga jam di jalan. Saya bisa bekerja di rumah, atau jika bosan saya ke luar nongkrong di cafĂ© dan ngeblog,” ujar Budi Putra dalam perbincangan dengan kompas.com suatu sore.

Perkenalan Budi dengan dunia blog belumlah lama. Ia mulai ngeblog tahun 2001. Tapi, belum serius. Postingnya hanya sebatas mengarsipkan tulisan-tulisannya sebagai wartawan yang dimuat di media tempatnya bekerja. Blog-nya pun tidak terurus karena tertinggal oleh kesibukannya sebagai wartawan.

”Tahun 2006 saya mulai menjadi blogger yang baik. Artinya blogger yang baik adalah rajin buat posting, menjawab komentar, blogwalking (berkunjung) ke blog lain dan menyapa pemilik blog,” tuturnya.

Hanya butuh waktu satu tahun sejak ia menjadi blogger yang baik hingga akhirnya memutuskan sepenuhnya ngeblog dan memilih blogger sebagai profesi dan tumpuan hidupnya. Pada 1 Maret 2007 Budi Putra resmi mengundurkan diri sebagai wartawan di sebuah media nasional. Padahal, karirnya tidak jelek sebagai pekerja pers: editor rubrik teknologi. “Keputusan ini tidak gampang. Pergulatan saya setahun sebelum memutuskan pilihan ini,” ungkap Budi.

Sebuah keputusan yang sangat berani, tapi tentu saja bukan tanpa perhitungan. Setidaknya ia sadar betul bahwa ia tidak ingin bunuh diri dengan meninggalkan pekerjaan mapannya sebagai wartawan di sebuah media besar. Cita-cita masa kecilnya menjadi wartawan tidak pula kandas karena sebagai blogger ia terus menulis.

Budi Putra lahir dan besar di Payakumbuh, Sumatera Barat, 12 September 1972. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi wartawan meski kedua orangtuanya, Pasangan Bachtiar dan Musril, berharap kelak ia bisa menjadi seorang diplomat. Sejak SMP Budi sudah keranjingan menulis. Karyanya kerap dimuat di Harian Singgalang. Usia 19 tahun saat masuk tingkat pertama di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Budi diterima sebagai wartawan di harian itu. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik membuatnya didapuk menjadi redaktur internasional pada tahun kedua. Masih kinyis-kinyis, usianya baru 21 tahun dan belum selesai kuliah.

Persentuhannya dengan dunia teknologi terjadi tahun 1996 ketika ia mendapat fellowship selama tiga bulan ke Jepang. Di sana ia terkagum-kagum melihat para petani di negeri Sakura itu sudah mengakses internet untuk memperoleh informasi. Pulang ke Padang ia serius belajar bahasa pemrograman secara otodidak. Hasilnya, ia sukses meng-online-kan Harian Singgalang pada tahun 1997. Tahun 2000 Budi hijrah ke Jakarta bergabung dengan sebuah media nasional sampai akhirnya dipercaya sebagai editor rubrik teknologi.

Serius Belajar
Dunia blog sudah mengganggu benak Budi sejak dua tahun silam. Sebagai editor rubrik teknologi ia sudah mencium gelagat bahwa wahana baru di dunia maya ini cepat atau lambat akan menjadi ancaman buat media cetak. Sebagai pekerja pers di media cetak ia merasa gelisah. ”Kita tidak mungkin mengabaikan perkembangan teknologi baru ini. Saya bilang pada diri saya sendiri saya harus pelajari ini. Untuk apa? Untuk perkembangan media cetak. Ternyata ada banyak hal positif yang bisa dipelajari. Blog menawarkan sebuah interaksi, membangun kedekatan antara penulis dan pembaca. Selama ini komunikasi media cetak kan hanya satu arah, komunikasi yang jauh,” terangnya.

Budi pun lantas serius mempelajari dunia blog. Buku-buku tentang blog di Amazon diborongnya. ”Di Jakarta, mungkin buku tentang blogging terlengkap salah satunya adalah di rumah saya. Belum terhitung buku-buku lain tentang internet,” cetusnya.

”Blog itu dunia baru yang ilmunya masih sedikit. Jadi kalau kita tidak belajar tidak bisa. Ngeblog tidak bisa dikembangkan hanya dengan common sense. Kita harus pelajari toksonominya, blogsphere (dunia blog) itu seperti apa, kenapa blog harus ditulis spesifik, pendek, kenapa link penting, kenapa komentar harus dijawab. Semua ada alasan dan ilmunya. Jadi kalau kita masuk ke dunia ini hanya berbekal common sense tidak jadi apa-apa,” jelas dia lagi.

Namun sayang, Budi mendapati visi para pekerja pers di media cetak memandang internet dan blog sebagai ancaman. Jangankan blog, situs media pun tidak dikelola dengan baik. “Mereka berpikir kalau mengembangkan (media) online-nya edisi cetak mereka tidak akan dibeli orang. Itu persepsi yang keliru seratus persen. Padahal kita bisa mengonvergensikan dua medium ini menjadi kekuatan baru,” tegasnya.

Sambil terus melahap seluruh informasi tentang blog Budi mulai serius mengelola blog-blog pribadinya yang semua bertema teknologi, yaitu www.budiputra.com, www.asiatech.com, www.indonesiatech.com dan www.3Gweek.com. Perlahan, ia menemukan kesenangan di jagad blog ini. Ia ngeblog bukan karena kewajiban bahwa blog-nya harus di-update, tapi karena cinta akan dunia baru yang dilakoninya itu. Upayanya tidak sia-sia. Di blogsphere namanya mulai populer sebagai blogger teknologi. Sebagai editor teknologi, jaringan dengan industri pun terkelola dengan baik.

Tawaran pun datang. CNET ASIA, sebuah situs teknologi, mengajaknya bergabung ngeblog di sana bersama sejumlah blogger teknologi Asia lainnya. Ada blogger dari Singapura, Korea, Jepang, Malaysia, Cina, India dan Filipina. Budi adalah representasi blogger Indonesia. Kewajiban Budi adalah membuat posting dua kali seminggu. CNET ASIA memberinya honor yang besarnya sedikit banyak tidak berbeda dari penghasilannya sebagai jurnalis. Selain itu, ia juga mulai mendapat penghasilan dari iklan pada blog-blog pribadinya.

Peluang mendapatkan penghasilan dari aktivitas ngeblog mulai terbuka. Ia menjelaskan, ada tiga peluang yang bisa diambil oleh seorang blogger. Pertama, menjadi publisher blogger. Seorang blogger dapat menghasilkan uang dari iklan pada blognya. Jika ingin mendapat penghasilan yang lumayan blogger dituntut menulis dalam bahasa Inggris dengan konten yang bermutu. Kalau tidak, ia menjamin, iklannya tidak akan tinggi. Contoh publisher blogger yang sukses adalah Darren Rowse. Blognya, www.problogger.net, bisa meraup 2.000 US dolar sebulan.

Kedua, menjadi blogger berbayar. Seorang blogger menulis di blog-blog terkenal dan dibayar untuk itu. Untuk menjadi blogger berbayar, seorang blogger dituntut kompeten pada satu bidang tertentu. ”Sekarang banyak blog yang butuh penulis. Saya baru saja ditawari lagi untuk menulis di salah satu blog, tapi saya sudah tidak punya waktu,” tutur Budi.

Ketiga, lanjutnya, adalah menjadi konsultan. Jika seorang blogger paham betul tentang dunia blog, ada banyak perusahaan atau pribadi yang membutuhkan pengetahuan mereka.

“Dari tiga celah itu saya pilih dua yang terakhir (blogger berbayar dan konsultan),” tegas Budi. ”Saya tidak mendorong orang untuk yang pertama (publisher blogger) karena kalau begitu buat saya dunia blog sempit dan hanya untuk uang. Orang mau ngeblog sudah tanya uang. Awalnya jangan pikirkan uang. Mulai dan carilah kenikmatan sampai betul-betul menemukan passion-nya. Setelah Anda menemukan passion Anda di dunia blog uang akan datang sendiri, “ kata dia.

Mendirikan ABN
Lambat laun aktivitas Budi di dunia blog semakin intens. Berbagai tawaran kerjasama terus datang. Tapi, ia tidak mungkin menyambut tawaran-tawaran itu karena ia masih berstatus sebagai jurnalis yang terikat dengan institusi media tempatnya bekerja. ”Saya harus fair. Kalau saya terima semua tawaran-tawaran itu pasti ada conflict of interest. Saya tidak mau,” ujar Budi.

Sampai suatu ketika, dalam sebuah acara hajatan teknologi di Singapura, Budi bertemu dengan sejumlah blogger yang mengembangkan blog dan berbisnis di dunia itu. ”Mereka bertanya pada saya, di Indonesia apa yang sudah ditawarkan oleh industri blog. Saya tersadar di Indonesia tidak ada sama sekali industri blog dan saya malu sekali waktu itu. Nah, sejak saat itu mulai muncul dorongan dalam diri saya untuk berbuat sesuatu,” cerita Budi.

Setelah berkonsultasi dengan sejumlah teman bulatlah tekadnya untuk membawa blog Indonesia ke dunia industri. Bulat pula tekadnya untuk mengakhiri karir jurnalistiknya di media tempatnya bekerja. Pada 1 April 2007, persis sebulan setelah mengundurkan diri sebagai jurnalis, Budi mendirikan PT Asia Blogging Network (ABN). Dua bulan kemudian, tepatnya 6 juni 2007, Budi meluncurkan situs www.asiablogging.com. Situs ini adalah situs komunitas blogger yang menulis tentang beragam topik. Layaknya sebuah media, situs ini memiliki 15 rubrik yaitu bussiness, city, film, health, writing, sport, lifestyle, media, hobby, science, music, technology, tips, travel dan personal.

Budi mencari sendiri bloger-bloger yang menulis di situsnya. ”Saya tidak meminta mereka menulis untuk rubrik tertentu. Mereka justru saya tanya mau menulis apa, lalu saya bikinkan rubriknya. Saya ingin mereka menulis dengan passion, menulis dengan senang. Jadi, kalau mereka ngeblog itu seperti sedang beristirahat,” ungkapnya.

Kini ABN memiliki 40 blogger dengan 90 blog. Satu orang blogger memegang dua sampai tiga blog. Mereka dibayar? ”O, tentu saja,” sahut Budi. ”Tidak besar, tapi paling tidak bisa untuk biaya akses internet, beli buku untuk tambah wawasan. Kalau suka film ada duit buat tambah-tambah beli film. Karena sebetulnya mereka ngeblog bukan untuk cari duit tapi memang sudah senang. Tapi, saya harus memberi apresiasi atas kesediaan mereka ngeblog di ABN,” ungkapnya.

Jika Budi adalah blogger profesional pertama Indonesia maka ABN adalah perusahaan blog pertama di Indonesia. Ia optimistis prospek industri baru ini cerah. ”Karena industri bloging di Indonesia masih nol kilometer. Ketika saya meluncurkan situs ini banyak pihak yang kontak. Mereka butuh komunitas blogging untuk promo produk mereka yang terkait dengan blog tidak untuk hardsell tapi untuk membangun image,” terangnya.

O, iya, Budi Putra punya kartu nama satu lagi dengan identitas PT Asia Blogging Network. Di bawah namanya tertera ”CEO” (Chief Executive Officer). ”Kartu nama yang ini untuk komunikasi dengan dunia industri,” ujarnya sambil tersenyum. (J Heru Margianto)


Foto: www.asiablogging.com

Dari "Blog" Menjemput Peluang

”Hi, I am Trinity, an ordinary woman in Jakarta who loves traveling. This is my journal and thoughts collected from my trips around the globe and across my lovely country, Indonesia.”

Itu catatan identitas pemilik blog yang namanya tidak kalah membangkitkan keingintahuan, naked-traveler.blogspot.com.

”Sengaja saya memakai nama Trinity, nama yang mengingatkan pada tokoh film Matrix, untuk menarik minat dan diklik orang ketika mereka mencari pakai mesin pencari,” kata Perucha, pemilik situs tersebut.

Menurut Trinity, begitu dia lebih suka disebut, tidak mungkin pakai nama perempuan, misalnya, Yanti, karena orang biasanya tidak akan mencari nama itu dalam mesin pencari.

Nama blog-nya juga provokatif. Naked, dari bahasa Inggris, yang artinya telanjang. Tetapi, seperti ditulis Trinity di blog-nya, tidak ada ketelanjangan di sana.

Pasti bukan karena nama yang provokatif dan mengundang imajinasi nakal itu yang membuat orang datang ke blog tersebut yang sampai Sabtu petang lalu sudah diklik 279.262 pengunjung.

Cerita perjalanan dengan sentuhan pribadi dalam blog yang dibuat mulai tahun 2006 itu memang menarik. Simak judul You.Me.Marry, misalnya. Trinity bertutur tentang pengalamannya sebagai traveler perempuan yang bepergian dengan sesama teman perempuan, berulang kali diajak menikah oleh lelaki berkulit hitam. Entah di Roma, Italia, atau di Amerika. Mulai dari cara merayu sampai digotong lelaki kulit hitam untuk dipaksa menikah dituturkan Trinity di situ.

Bernilai ekonomi

Dari awalnya hanya sebagai cara mencurahkan berbagai pengalaman selama berkelana, akhirnya blog yang populer itu mengilhami lahirnya buku.

”Ada 70 cerita yang di-copy-paste dari cerita tahun 2005-2006 dalam blog saya menjadi buku The Naked-Traveler,” kata Trinity. Buku terbitan Bentang Pustaka tahun 2007 itu sudah dua kali cetak ulang dengan jumlah 30.000 buku.

Pengalaman mirip juga berlaku pada Raditya Dika (23). Mahasiswa semester V Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia membangun blog pribadi kambingjantan.com sejak 2002. Blog ini berisi pengalaman sehari-hari yang dia tuliskan secara lucu.

Tak dinyana blog ini menarik banyak pengunjung dan mendapat penghargaan The Best Indonesian Blog dari blog theflyingchair.net yang rajin memberi peringkat pada blog di berbagai negara.

Popularitas blog kambingjantan lalu menarik minat penerbit Gagas Media tahun 2005 menerbitkan buku yang memakai judul sama dan isinya diambil dari blog.

Bukunya pun tak kalah laku. Raditya memperkirakan tahun ini buku itu telah dicetak 19 kali dan memberi dia royalti lebih dari Rp 100 juta.

Pembangkitan nilai ekonomi yang tidak direncanakan dari awal juga terjadi pada blog ndorokakung.com milik blogger senior, Wicaksono.

Meskipun disampaikan secara ringan, blog itu memberi informasi seputar dunia politik, kebanyakan isu dalam negeri. Komentar terbarunya antara lain tentang blog kartun Nabi Muhammad SAW yang membuat banyak orang marah. Tidak seperti dugaan banyak orang, menurut ndorokakung.com kartun itu sudah muncul beberapa bulan. Kehebohan meledak setelah media arus utama mengangkatnya sebagai berita.

Cara mengisi blog yang konsisten, informasinya dapat dipercaya dan selalu diperbarui, serta disajikan ringan membuat blog Wicaksono memiliki banyak pengunjung. Pemeringkatan yang dilakukan blog indonesiamatters.com menempatkan ndorokakung.com pada peringkat kelima blog terpopuler di Indonesia.

Pemeringkatan itu, menurut Wicaksono, dapat dipakai calon pemasang iklan menempatkan iklan mereka. Ndorokakung.com pun mendapat iklan meskipun belum ajek.

Nilai ekonomi yang muncul dari kegiatan kreatif ini dapat melebar ke arah yang semula tak dibayangkan pembuatnya. Cerita dalam dalam buku itu kini dijadikan film berjudul sama yang ditargetkan putar perdana di bioskop awal 2009.

Raditya menulis skenario film itu bersama Salman Aristo dengan sutradara Rudy Sujarwo. ”Saya tidak menjual putus cerita itu, tetapi menggunakan sistem royalti,” kata Raditya.

Alat pemasaran

Karena sifatnya yang menular seperti virus—mereka mengistilahkan viral communication—blog juga bisa ampuh sebagai alat pemasaran.

Iqbal Prakarsa membuat blog wetiga.com untuk mempromosikan warung angkringannya yang menjual nasi kucing—nasi dalam porsi mini—dan wedang jahe di Jalan Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pengunjung Warung Wedang Wi-fi (Wetiga) mendapat fasilitas internet gratis, tetapi harus bawa laptop sendiri.

Pengunjung Wetiga akan dipotret lalu fotonya dimasukkan dalam wetiga.com. Kiat itu berhasil dan warung yang baru buka malam sejak dua bulan itu beromzet rata-rata Rp 500.000-Rp 600.000 semalam.

Dengan cara itu pula kampanye Gerakan Seribu Buku Komunitas Blogger BHI (Bundaran Hotel Indonesia) berhasil mengumpulkan 1.500 buku. Salah satu penyumbangnya Dubes Amerika untuk Indonesia Cameron R Hume. Dubes Hume mendatangi warung angkringan itu dan dalam foto di wetiga.com terlihat ikut makan tempe.

Hak cipta

Meskipun memberi banyak peluang tak terduga, blog juga membawa risiko, yaitu pembajakan karya.

Raditya langsung menutup kambingjantan.com ketika menyadari potensi pembajakan itu setelah blog-nya ternyata bernilai ekonomi. Sebagai ganti, dia membuat raditya.com sebagai alat pemasaran untuk buku-buku dan filmnya.

Sementara Trinity tidak khawatir isi blog-nya dibajak dengan alasan bahasa, sudut pandang, serta lokasi yang diceritakan amat personal, sutradara film iklan, Iman Brotoseno (42), sempat jengkel karena blog-nya dimanfaatkan orang tanpa izin.

Lebih nekat lagi, informasi itu diterbitkan sebagai bagian dari buku. Ketika sedang berjalan-jalan di Jakarta, Iman menemukan buku berjudul Soekarno Uncensored, Benarkah Soekarno Lebih dari Soeharto?. Bab ”Akhir yang Tragis” di halaman 99-102 ternyata mengutip mentah-mentah tulisan dari blog Iman.

Iman mengaku terlalu sering tulisannya dalam blog dicomot tanpa izin. ”Tetapi, kali ini keterlaluan karena sampai dibuat buku. Saya hanya butuh pengakuan, seharusnya penulis buku itu mencantumkan sumbernya,” tandas pemilik blog imanbrotoseno.com. Setelah Iman mengirim surat teguran, penulis buku itu mengakui kekeliruannya dan menarik buku dari peredaran.

”Sebenarnya dunia maya juga terikat aturan hukum. Karya tulisan, gambar, atau film dilindungi oleh World Intellectual Property Organization sebagai hak kekayaan intelektual. Sama seperti UU Informasi dan Transaksi Elektronik Tahun 2008, perlindungan WIPO tidak dibatasi wilayah geografis,” jelas Ketua Umum Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia Sylvia Sumarlin.

Nah, meskipun dunia maya memberi kebebasan seluas-luasnya, ternyata tetap ada etika dan aturan yang tidak bisa diabaikan. (IND)


Sumber: Kompas Cetak, Minggu, 23 November 2008
Foto:
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Dari Dunia Maya lalu Kopi Darat

Blogger boleh punya banyak teman yang didapat melalui dunia maya, tetapi itu ternyata tak memuaskan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Karena itu, para blogger yang merasa punya kesamaan kepentingan atau aspirasi membuat komunitas di dunia nyata.

Komunitas itu muncul di berbagai daerah di Indonesia, seperti komunitas Cah Andong di Yogyakarta, Anging Mamiri di Makassar, Bali Blogger Community (BBC) di Bali, dan Komunitas Blogger BHI (Bundaran Hotel Indonesia) di Jakarta.

Saiful (31) yang bersama temannya, Bachtiar, mendirikan Komunitas BHI pada pertengahan 2006 mengatakan, awalnya dia membuat blog yang isinya adalah unek-unek perasaan sebagai ”orang kampung” yang merantau di Jakarta.

”Banyak sekali hal jauh berbeda di Jakarta dibandingkan dengan kehidupan saya di Cilacap,” kata Saiful yang karyawan Bank Indonesia itu.

Ternyata blog-nya menarik perhatian sejumlah perantau yang punya perasaan sama. Dari sana lalu terpikir untuk bertemu di dunia nyata. Mereka memilih tempat berkumpul di trotoar di depan Plaza Indonesia di seberang Bundaran Hotel Indonesia untuk kopdar (kopi darat). Karena itu, nama komunitas mereka yang sangat cair itu Komunitas BHI. Mereka bertemu di sana tiap Jumat malam sepulang kantor.

Dunia nyata


Dari bertemu secara rutin, mereka merasa harus melakukan sesuatu di dunia nyata.

”Kami tidak ingin dianggap NATO (no action talk only/omong doang),” kata Herman Saksono (27), salah satu moderator Cah Andong.

Selain kegiatan seminar dan bincang-bincang, Cah Andong juga mengadakan kegiatan dadakan seperti bakti sosial dan bersih pantai di Pantai Pandansari, Yogyakarta.

Sebagai kegiatan rutin, blogger Cah Andong mengelola situs wajahjogja.com. Di situs ini, para blogger Cah Andong meliput dan menulis profil orang Yogya.

Profil yang dimunculkan tidak harus orang terkenal atau orang berpendidikan di Yogyakarta, tetapi bisa juga profil rakyat kecil seperti penjaja koran, gelandangan yang jadi korban penertiban, nelayan yang sulit mendapat ikan, dan lain-lain.

Pilihan pada orang kecil bukan tanpa maksud. Dengan cara itu, blogger Cah Andong ingin menggugah kepedulian siapa saja akan nasib rakyat kecil. ”Jadi, jangan hanya mengandalkan pemerintah,” tutur Herman.

Komunitas BHI membangun kegiatan produktif untuk masyarakat tidak mampu di Desa Bangsari, Cilacap. Menurut anggota BHI, Iman Brotoseno, di desa miskin itu mereka membagikan bibit kambing untuk diternak warga desa. Uang hasil penjualan kambing digunakan warga desa untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Jumat malam lalu BHI mengadakan Muktamar Blogger II di depan Plaza Senayan. Menurut Saiful, ada sekitar 40 orang datang di acara yang dimulai pukul 21.00 hingga lewat tengah malam. Di situ mereka juga menutup kampanye Gerakan Seribu Buku yang berhasil mengumpulkan 1.500 buku untuk anak-anak sekolah.

”Kampanye itu kami posting di blog, siapa saja boleh menyumbang,” kata Saiful. Buku yang terkumpul itu dikirim ke sekolah-sekolah antara lain di Yogya, Cilacap, dan Jakarta.

Cah Andong juga memilih Jumat malam untuk acara rutin Juminten-an atau Jumat Midnite Tenguk-Tenguk (nongkrong). Biasanya sekitar 30 orang blogger Cah Andong bertemu di depan monumen Serangan Oemoem Satu Maret di perempatan Malioboro. (IND/BSW/NMP)


Sumber: Kompas Cetak, Minggu, 23 November 2008
Foto:
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Para blogger memanfaatkan warung angkringan Warung Wedang Wi-fi di Jalan Langsat I, Jakarta Selatan, untuk kopi darat.